The “Moving On” Parts
to
let go, is never easy
saat dihadapkan dengan berbagai
macam bentuk kehilangan, reaksi yang seringkali kita ungkapkan adalah sedih..
sebagian orang akan merasa
depresi
dan sebagian orang lainnya
mungkin ada yang merasa marah
kita merasa tidak adil, kita
merasa dikecewakan, lalu kemudian bertahan.
Mencoba mencari jawaban atas
segala pertanyaan yang tiba-tiba berkelebat di pikiran,
Kenapa
begini? Apa yang salah? Bisakah waktu kembali berputar?
Semuanya terasa menjadi gelap.
Hitam. Semua hal yang mengingatkan akan kehadirannya , baik dalam bentuk
barang/item favorit, hewan kesayangan, maupun orang-orang tercinta akan terasa
memilukan. Kita mencoba mengais-ngais, mengaduk-ngaduk memori tentang hal-hal
yang kita rindukan dengan begitu kerasnya, hingga seringkali kita melupakan
keadaan di sekitar kita.
Ada yang mengurung diri di
kamar, ada yang mengeluarkan aksi diam, ada yang menangis hingga tersedu-sedu,
ada yang kehilangan nafsu makan dan bersosialisasi, dan adapula yang menjadi dead living a.k.a hidup namun
perasaannya mati. Tak jarang pula, di kasus-kasus tertentu, orang yang
mengalami kehilangan akan merasakan emosi yang meluap-luap hingga menjadi gila,
dan yang paling parah ialah mencoba untuk mengakhiri hidup.
Saya sendiri, tidak menutup diri
bahwa berada dalam fase tersebut adalah hal yang paling mengerikan dalam hidup
saya.
Bermimpi saja tidak ingin,
tetapi kemudian saya harus menelan pil pahit.
Saya menduga-duga dimana letak
kesalahan saya, seharusnya saya begini, seharusnya saya begitu. Saya
berandai-andai untuk dapat memiliki mesin waktu yang mampu memberikan saya
“keajaiban” untuk kembali memutar waktu dan mempertahankan apa yang ada.
Jangan sampai hilang, jangan
sampai tiada.
Saya berada di fase ini begitu lama sehingga saya benar-benar
mengabaikan orang-orang sekitar. Mengabaikan bagaimana orang-orang terdekat
saya khawatir akan keadaan saya dan ingin melihat saya kembali ceria.
Sulit rasanya untuk tersenyum.
Bahkan diam saja rasanya
menyakitkan.
Saya ingin dikubur saja hingga
tidak perlu melihat siapapun atau apapun berada disekeliling saya. Yang saya
inginkan adalah keadaan yang dulu, keadaan dimana saya masih “memiliki”, masih
melihat keberadaanya.
Hanya itu yang mampu membuat
saya tenang, mampu membuat saya tersenyum, bahkan mampu membuat saya merasa
bersyukur kembali.
Begitu “ajaibnya” perasaan
kehilangan tersebut hingga rasanya mampu merenggut nyawa dan hidup saya..
Di momen tersebut, kehadiran
orang-orang terdekat yang berusaha menyelamatkan, nyatanya hanya menemui dead end atau jalan buntu. Bagaimanapun
juga, sekuat apapun mereka berusaha, jika bukan kita yang menyatakan diri untuk
bangkit, usaha tersebut hanyalah terpaan angin belaka.
Hanya kita yang sanggup
mendongakkan kepala kembali dan bersiap menatap dunia. Dunia dimana
“keberadaannya” sudah tidak berada dalam orbit kita.
Beberapa sahabat dan kenalan
yang saya temui, tidak jarang menceritakan pengalamannya dalam menghadapi
kehilangan.
Jujur, mereka jauh lebih hebat
dibandingkan saya, dalam menghadapi momen kehilangan ini.
Saya mungkin mengalami kesedihan
yang dramatis, dimana tidak ada satu orangpun yang mampu menyelematkan saya,
sebelum saya sendiri yang benar-benar menyatakan bahwa diri saya sudah pulih
seperti sediakala.
Well,
saya tidak
lupa, tetapi berusaha melupakan.
Saya belajar untuk memaafkan
diri saya sendiri, walau kenyataan tersebut sangatlah sulit.
Saya berusaha menerima keadaan
diri saya, dimana saya menjadi pribadi yang kosong ditengah, dibandingkan saya
harus merasa kosong sepenuhnya.
Saya dapat melanjutkan hidup,
dengan catatan, waktu yang menjawabnya.
Orang-orang yang saya kenal,
memiliki momennya tersendiri untuk menghadapi fase tidak menyenangkan ini.
Beberapa orang memang masih
menanyakan pada saya, bagaimana caranya, apa yang harus ia perbuat, dan
lain-lainnya.
Terus terang, saya sendiri masih
bertanya-tanya pada diri saya.
Am
I ready yet?
Sejujurnya, tidak.
Saya tidak akan pernah siap,
tetapi, saya harus siap.
Saya harus melanjutkan hidup.
Saya harus bisa kembali bahagia
dan bermanfaat bagi sekeliling saya.
Saya tidak ingin berpulang hanya
dengan nama, tetapi tidak memiliki makna.
Saya bukan seorang mentor yang
mampu memberikan motivasi-motivasi hebat, kata-kata penyemangat yang mampu
menggetarkan hati, membangkitkan jiwa-jiwa yang resah, dan mengubah mood dan
suasana menjadi cerah seketika.
Saya hanyalah manusia yang
pernah berada di “masa” susah..
Saya tahu bagaimana berdarahnya,
Saya tahu bagaimana tidak
mengenakkannya,
Saya tahu bagaimana saya
membenci masa-masa kosong tersebut
Dan saya tidak ingin
mengalaminya, lagi….
Jika sebuah momen untuk
mengakhiri hidup adalah masa paling kritis dalam menghadapi fase kehilangan,
saya mungkin pernah berada di saat
tersebut.
Lama sekali saya berpikir untuk
kembali bangkit, karena saya tidak merasa ada gunanya untuk bangkit kembali
menatap hidup,
Yang saya cintai sudah tiada,
yang saya miliki sudah hilang,
Buat apalagi saya ada?
Sedih sekali rasanya jika saya
teringat kembali.
Saya tidak pernah berusaha untuk
mengingat, tapi selalu teringat.
Terlebih lagi, ketika malam
datang dan saya hanya ditemani oleh kesunyian dan kegelapan.
Bukankah lebih baik, saya
mengakhiri hidup saya jika dibandingkan saya harus tetap bernapas namun jiwa
saya sudah tidak lagi benar-benar ada?
Di masa inilah,
Saya,
Dan kita..
Belajar untuk merelakan..
Belajar untuk melepaskan
Belajar untuk ikhlas.
Karena pada dasarnya, apa yang
kita miliki saat ini hanya sementara..
Saya dan kita, bukanlah Sang
Pencipta
Kita hanya diberi anugerah
sementara, apakah kita mampu menjaganya, merawatnya, mengasihinya, sekuat
kemampuan kita…
Di masa inilah,
Saya dan kita sepatutnya
menyadari,
Bahwa mungkin,
Kita berhak menerima diri kita
kembali ketika kita melakukan kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan hal-hal
yang kita miliki hilang
Di masa inilah kita belajar
menerima diri kita kembali, apa adanya
Bahwa kita hanyalah manusia
biasa
Yang sakit saat kehilangan
Yang marah saat dunia terasa
tidak berjalan semestinya
Yang sedih saat harus merelakan
Tapi, fase inilah yang mampu
membuat kita berjalan dengan lebih tegak lagi
Melangkah lebih jauh lagi
Berlari lebih jauh lagi
Fase ini mungkin akan kita alami
berkali-kali
Kita akan selalu dalam roller coaster mode
Perasaan akan selalu diaduk-aduk
Akan selalu diuji
Akan selalu diberikan tantangan
Beberapa orang mungkin menyerah
Beberapa orang mungkin tidak
akan mencoba untuk bangkit kembali
Tetapi, saya..
Dan coba saya ganti menjadi “kita”
Semoga selalu bisa menjadi
pribadi yang “bangkit kembali”
Dimana kehilangan adalah justru
fase paling berharga untuk lebih menghargai apa yang kita punya
semoga
Komentar