Menjadi mandiri itu penting nak..


 Anakku sayang,
izinkan ibu berbagi sedikit kebahagiaan padamu..


Maret adalah ulangtahun ibu..
beruntungnya, tanggal ulangtahun ibu, 9 Maret, selain hari bersejarah bagiku, nyatanya tanggal itu diperingati pula sebagai Hari Musik Nasional.
Sungguh, gembira tak terbilang ketika ibu mengetahui hal ini, saat itu ingat betul bahwa ibu masih memakai seragam putih abu-abu.
Mungkin, itu sebabnya pula, mengapa dari dulu ibu sangat mencintai musik.
selain pengaruh dari kakekmu, tentunya.
Ia adalah pemain gitar yang andal dan memiliki suara yang merdu.
mungkin saja, ia sekarang sedang bernyanyi-nyanyi sambil menghadiri seminar penting terkait pekerjaan kakek di Semarang :)
Intinya, ibu berbahagia lahir di Bulan Maret, di tanggal 9, di hari Sabtu, dan tentunya, lahir di keluarga ini..


Anakku sayang,

ibu belum tahu, kapan nantinya kamu akan bergabung dengan ibu, menginjakkan kaki kecilmu di planet kecil ini.. yang pasti, kamu adalah seluruh GALAXY bagi ibu.. tak terbayangkan bagaimana raut mukaku saat menyambutmu serta merengkuhmu hangat sembari menyebutkan hamdalah dan Asmaul Husna tak berkesudahan atas kehadiran dirimu.. yang pasti, hidupku, seluruhnya untukmu..


sayang,
kemandirian adalah salah satu hal yang harus kamu pelajari sejak dini.
hal ini akan mengantarkan kamu, kepada gerbang kesuksesan, kepada jalan untuk mengarungi tantangan-tantangan hidup, dan bahwa hal ini adalah bentuk nyata eksistensimu.
kamu ada.
kamu bisa.


ibu akan berbagi sedikit pengalaman padamu..

seperti yang sudah kamu ketahui, ibu adalah anak kedua dari tiga bersaudara.
om mu yang ganteng, bernama Erlangga Nizar Pratama. adalah anak pertama. Dulunya, om mu seringkali dipanggil Angga. Tetapi, sejak adanya film Ada Apa Dengan Cinta, om mu ngotot dipanggil Rangga.. *ngelapairmata* ngebayangin hal ini, ibu masih suka geli sendiri. nanti, ibu kasih file filmnya ke kamu yaaa.. all you got to do is asking ;)

nah, tantemu.. bernama Aprilia Islamiati Putri. Dia sungguh cantik. Sungguh.. kamu pasti sudah melihatnya sekarang. Saat ibu menuliskan ini, dia masih berasa di semester 4, dengan kampus yang sama seperti ibu. Bedanya, dia masih strata 1 dan ibu sekarang sedang mengejar master..

diantara ketiga bersaudara, ibu mendapatkan ilmu disiplin yang sedikit lebih berat dibandingkan kakak dan adik ibu..

menjadi anak kedua, itu tidaklah mudah. Ibu tidak bilang itu susah, tapi juga tidak mudah.
Ibu merasa di dua persimpangan, menjadi seorang kakak dan adik sekaligus. Namun, ibu telah menyadari ada kebahagiaan besar yang ibu rasakan sebagai anak kedua, si anak tengah.

Sebagai seorang penjaga keamanan negara, kakekmu adalah orang yang tegas. Sejak kecil, ia telah menerapkan ilmu disiplinnya kepada seluruh anak-anaknya. Termasuk ibu. namun, selalu saja, ilmu disiplin ini lebih berat ditujukan ke ibu. baik pendidikan, akhlak, etika, dan lain-lain. Entah mengapa, ibu merasa perlakuan inilah yang membuat ibu seperti ibu sekarang ini.

Dengan amanah yang ia pegang, masa kecil ibu, ibu lewati dengan berpindah sekolah. Ibu ingat sekali, saat itu, ibu sudah mulai kerasan belajar di Sangatta, sebuah kota kecil di wilayah Kalimantan Timur, dekat dengan tambang batu bara. Kakekmu dipindah tugaskan kembali ke Jakarta. ibu sedih sekali.. kepergian ibu kali itu meninggalkan 20 kucing kesayangan ibu, dan dititipkan kepada tetangga. Ps: seluruh keluarga ibu, sangat menyukai kucing! Semoga kamu demikian ya sayang… ini adalah binatang kesayangan nabi ;)

Ketika pertama kali pindah ke Jakarta, ibu mendapatkan kesempatan untuk belajar di sekolah negeri yang jaraknya sedikit jauh dari rumah. Saat pertama kali sekolah, ibu diantarkan kakekmu. Saat itu, ibu duduk di bangku kelas 3 SD. Rasanya sedikit asing, karena teman-teman lain terasa begitu… hmm bagaimana rasanya ibu katakan? 
yaaa hmm...
Sedikit lebih modis dibandingkan teman-teman ibu sebelumya. namun, ibu memberanikan diri untuk berkenalan dan beradaptasi dengan teman-teman lainnya.
Ibu ingat betul saat jam pulang sekolah tiba, ibu merasa ketakutan.

Pasalnya, kakekmu tidak menjelaskan secara perinci harus pulang dengan menaiki apa untuk sampai kerumah. Uang jajan yang jumlahnya setengah jumlahnya dari uang jajan teman-teman kebanyakan, telah habis untuk jajan (jangan ditiru ya nak, sebaiknya kamu mulai belajar menabung sejak dini). Kakek hanya mengatakan alamat rumah sebelum ia bergegas kembali ke kantornya ketika pertama kali mengantarkanku. Padahal, ibu belum pernah berkeliling Jakarta dan tidak familier dengan kendaraan umum. Saat itu jam 11 siang. Ibu masih celingak celinguk.

Kamu tau, pikiran ibu saat itu sangat kacau. Rasanya ingin menangis. Orang-orang disekeliling ibu terlihat tidak ramah. Tidak seperti di Kalimantan. Semuanya terasa begitu cuek. Sedih rasanya.. 
hingga jam setengah 1, ibu masih berdiri mondar-mandir di pinggir jalan,sudah hampir putus asa. Ingin menangis saja.

Lalu, muncullah bajaj bak penyelamat hidup ibu. Saat itu, ia berhenti beberapa meter dari tempat ibu berdiri. Ibu masih malu sekali untuk menanyakan jalan, terlebih suasananya sangat berbeda dibandingkan Sangatta. 15 menit berlalu, perlahan ibu berjalan menghampiri sang supir bajaj.

Dengan suara pelan dan khas kedaerahan (ibu masih memiliki aksen Kalimantan Timur), ibu memberanikan diri berbicara dengan nada yang sedikit galak (ibu takut diculik juga oleh supir bajaj ;D ).. Ibu meminta dengan tegas untuk mengantarkan ke alamat rumah yang telah kakekmu sebutkan tadi pagi dan meminta sang supir bajaj nantinya ketika sampai, untuk menunggu sebentar dan ibu akan meminta uang kerumah dengan berlari.

Tahukah kamu reaksi supir bajajnya saat itu bereaksi apa?
Dia tersenyum. Lebar sekali. Ibu yakin, sepertinya sebentar lagi dia akan tertawa. Namun, alih-alih tertawa, dia mempersilahkan ibu untuk segera menaiki bajajnya dan bergegas pulang.
Dan apa yang terjadi di dalam bajaj?
Ibu menangis. Pelan sekali. Takut didengar oleh sang supir. Namun sepertinya, suara keras bajaj berhasil menutupi suara tangis ibu.
Sesampainya di komplek rumah, ibu menepati janji ibu dan lari sekencang mungkin ke rumah. Meminta sejumlah uang pada nenek, dan kembali menghampiri supir bajaj. Sambil menerima uang, sang supir bajaj tersenyum dan berkata “ kamu anaknya berani ya neng. Hati-hati kalau di Jakarta. hebat udah mandiri!”

Bukan main, bangganya ibu saat itu. Meskipun sang supir bukanlah kakekmu, tapi saat itu, ibu bersyukur kakek tidak memanjakan ibu dengan fasilitas antar jemput.


Kali kedua, saat ibu kelas 6SD.
Ibu mengikuti ekskul renang dan harus mengikuti ujian renang tiap satu bulan sekali. Ujian renang diadakan di Pondok Indah dan pada saat itu, ibu berencana untuk membayarkan uang ekskul renang selama 3 bulan yang belum sempat dibayar.
Uang yang diserahkan kepada nenek, ibu simpan dalam dompet dengan berniat untuk menyerahkannya kepada guru renang ibu, selepas renang dan berganti pakaian. Dompet ibu masukkan ke dalam tas ibu, dan saat itu, dengan keteledoran ibu, ibu taruh bertumpuk dengan tas-tas teman-teman lainnya. Tanpa memperhatikan keselamatan tas ibu.

Apa yang terjadi? 
Selepas renang, kami kembali ke tempat berganti pakaian dan menemukan tas-tas telah berhamburan dengan isi yang juga tak kalah berantakannya. Teman-teman mulai menangis, sebagian marah, kesal. Ada pula teman yang sudah berinisiatif menitipkannya kepada petugas loker, melihat kami yang mengalami tas berhamburan itu, dengan tatapan kasihan. Seandainya ibu punya uang lebih, ibu pasti juga akan menitipkan tas ibu kepada loker penyimpanan. Sayangnya, nenek selalu memberi uang cukup. Tidak kurang, tidak lebih. Bahkan terkadang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan uang teman-teman lainnya. 
Tapi nasi sudah menjadi bubur. 
Tas ibu telah berhamburan isinya dan dompet ibu pun telah tergeletak di luar.

Dengan tangan bergetar, ibu membuka dompet ibu, dan hanya menemukan uang 2000 rupiah.
Padahal sebelumnya, uang di dalam berjumlah 102 ribu rupiah. 100 ribu adalah jumlah uang ekskul renang ditambah dengan ongkos ibu pulang dan jajan, 2000 perak.
Lalu apa yang ibu temukan dalam dompet tersebut?
Sebuah tulisan acak adut, yang berkata.
 2000 UNTUK ONGKOS PULANG.

Bukan main, kesalnya ibu saat itu. Kalau diingat-ingat, sekarang ibu hanya tertawa-tawa membayangkan ekspresi saat itu. Ibu boleh jadi marah besar, tapi sesampainya di sekolah (setelah ditenangkan oleh guru renang dan menasihati agar lebih hati-hati lain kali), ibu kembali menangis.
Ibu takut diomeli nenek. Guru renang bisa saja untuk mengantarkan ibu pulang kerumah. Tapi, ibu malu. Ibu tidak mau merepotkan guru ibu, karena ini juga merupakan kesalahan ibu.
Oleh karenanya, uang 2000 tadi ibu simpan, untuk jajan esok hari, dan ibu pun memutuskan jalan kaki kerumah. Sebagai informasi, jarak rumah ibu dan sekolah sekitar 4km. Bagi anak kelas 6SD, jarak tersebut cukup jauh. 
Tapi tak mengapa, saat itu ibu malah berpikir bahwa ibu harus sedikit menerima hukuman dan bertanggungjawab atas kesalahan yang ibu lakukan. Ibu berharap dengan berjalan kaki, ibu dapat meredakan amarah nenek saat itu J

Kamu tahu apa yang paling menyenangkan? Selama jalan pulang, ibu mendapatkan kesempatan untuk mengobrol lebih banyak dengan teman-teman yang juga ikut ekskul renang. Teman-teman ibu ternyata tidak begitu jauh tinggalnya dari rumah ibu. Oleh karena itulah, ibu memiliki teman ngobrol yang asik selama perjalanan pulang. Bonusnya? Ibu mengetahui jalan potong yang cepat untuk sampai rumah. Jarak 4 km bisa ibu potong hingga setengahnya. J aah senangnyaa..

Di masa kuliah, ibu mendapatkan kesempatan untuk kuliah dengan gratis dan diasramakan.
Asrama ini sebenarnya lebih jauh jaraknya dari kampus. Sedangkan rumah ibu, sebenarnya memiliki jarak tempuh yang lebih dekat ke kampus.
Namun, ibu memutuskan untuk jarang pulang kerumah karena ibu ingin merasakan hidup sendiri, masak sendiri, berberes sendiri, dan apapun sendiri. Apakah menyenangkan?
Ya!
Ibu jadi lebih disiplin, lebih tahu bagaimana menjaga diri, dan yang terpenting, ibu bebas berkemauan namun tetap memiliki batasan tanggung jawab terhadap orang tua.

Nak,
Bagian yang menyenangkan dari mandiri ialah kamu dihargai oleh orang lain.
Banyak teman-teman, khususnya perempuan, pada saat seumuran ibu, mereka mendapatkan fasilitas antar jemput dari orangtua. Uang jajan yang melimpah, dan kebebasan untuk  hangout dengan teman-teman kuliah karena ketiadaan batasan. Namun bagi ibu, ketika kamu tidak merepotkan orang lain dalam hidupmu dan bertanggung jawab atas dirimu sendiri, Insha Allah kamu telah sukses membentuk karakter dirimu.
Karakter inilah yang nantinya dihargai orang lain.
Ingatlah itu nak, kamu dicintai karna dirimu sendiri. Bukan karena orang lain.
Jadilah bahagia dan menentukan kebahagiaan dari dirimu sendiri.
Bahagiamu adalah bahagia dirimu. Bukan orang lain.
Mandiri adalah ketika kamu mampu berdiri sendiri, tanpa merepotkan orang lain.

Belajarlah untuk terus mandiri, sayang..


Peluk cium ibu.

Komentar

Postingan Populer