Tentang Saya dan Masa Depan
Tentang Saya dan Masa Depan
Lama sudah saya terpekur, menatap pada
tumpukan buku yang menanti untuk dirangkum.
Atau coretan di post it warna biru, dengan spidol berwarna merah seakan marah
mengingatkan saya akan deadline 450 kata yang harus segera diselesaikan.
Saya masih duduk di depan laptop saya,
Memerah sudah matanya.
Sudah tidak tidur entah berapa hari
lamanya.
Baiklah, mungkin di waktu subuh pun saya
akhirnya bisa terlelap sebentar, sebelum suara mama menjadi alarm natural bagi
saya untuk bergegas bangun, menghadapi dunia nyata.
Rutinitas. Tiada henti.
Namun, bukan ini yang saya cari.
Nyatanya, di waktu sekarang ini, saya
menjadi sensitive sekali.
Pertanyaan yang bersangkutan dengan masa
depan dan “teman-temannya” ,dapat dengan mudahnya membuat saya bergidik ngeri.
“Kerja
dimana? Kuliah kapan selesai? Kapan bisa terima undangan? “ dan lain-lainnya..
Ngeri, sungguh. Bukan mengada-ada.
Saya takut bahwa apa yang saya lakukan
sekarang ini, bukanlah kemauan saya.
Saya takut, saya hadir disini hanya untuk
memenuhi ekspektasi tinggi dari sekeliling saya.
Saya takut, pada akhirnya, saya tidak dapat
memenuhi janji-janji membahagiakan mereka.
Saya takut, atas apa yang disekeling saya.
Mungkin ini hanya kekhawatiran sang Pisces
semata.
Mungkin saya harus kembali pada rutinitas
saya sebelum tahun ini bergulir.
Menari kembali? Les bahasa kembali? Hunting
foto sana-sini?
Saya rindu dengan diri saya yang dahulu.
Yang tidak mengkhawatirkan “jadi apa saya
nanti setelah saya memakai toga?”
“Berapa nominal yang perlu saya dapatkan
untuk bisa berbagi dengan mama dan papa?”
Dan hal-hal yang bersifat “remeh” namun
penting lainnya..
Saya rindu dengan diri saya yang tidak
mengkhawatirkan masa depan.
Saya rindu dengan keberadaan saya di depan
laptop, bukan untuk mencari isu apa, tapi tulisan-tulisan absurd apa lagi yang
bisa saya tuliskan..
Saya rindu bacaan yang bukan menjadi
keharusan.
Saya rindu dengan nyanyian seenak hati,
tanpa resiko dinilai oleh orang-orang ahli.
Saya rindu, dengan masa itu.
Masa tanpa rasa hati berdebar atas apa yang
menanti di esok hari.
Masa dimana senyum pun memang lepas
tersenyum, bukan direncanakan pada menit berapa tersenyum.
Wah, saya pikir dalam menuliskan ini saja
pun saya sudah bisa ketakutan setengah mati.
Komentar
semoga kerinduan itu terbalas,,
Obat Herbal Fistula Ani
Obat Herbal Tulang Keropos
Obat Herbal Kanker Kandung Kemih
Obat Herbal Amandel Kronis
Obat Herbal Vertigo Akut
Obat Herbal Glaukoma
Obat Herbal Ispa
Obat Herbal Disentri
Obat Herbal Varises
GLOW Enhanz
Obat Herbal Kanker Usus Halus
Obat Herbal Sipilis
Obat Herbal Alzheimer
Obat Herbal Epilepsi
Obat Herbal Pasca Stroke Berat
Obat Herbal Kanker Hati
Obat Herbal Kanker Pankreas
Obat Herbal Meningitis