ada yang tertulis

Ada kata yang terukir di hati, tetapi tidak terukir di buku nikah


Berulang kali saya mencoba untuk meyakinkan hati saya, bahwa saya akan baik-baik saja, semuanya hanya akan terasa sebentar lalu kemudian hanya menjadi selipan cerita bahan guyonan di masa tua. Tetapi nyatanya, masa kini begitu mengerikan hingga berada di antaranya seakan segores luka yang dipenuhi garam.

Ada namanya. Jelas. Meski mungkin ada puluhan bahkan ratusan orang di Indonesia yang memiliki nama serupa, namun saya tidak bisa salah. Itu adalah namanya. Nama yang saya harapkan berkali-kali dalam sujudnya untuk menjadi imam.
Nama yang saya pikir kelak akan menjadi ayah bagi dua pasang kaki mungil yang lincah berlari-lari.
Namun, bukan keajaiban yang datang, tetapi pukulan telak yang bertubi-tubi menyerang.

Sudah seminggu berlalu, saya menyisip obat penenang. Meneguknya tanpa dilanjutkan dengan air putih. Ada rasa pahit. Tidak saya hindari. Namun saya nanti, pahit demi pahit dalam sisip. Saya berharap pahitnya dapat meluruhkan rasa sakit di hati. Paling tidak saya ingin amnesia. Ingin lupa. Amnesia partial mungkin jawabannya. Pahitnya hanya sebentar, sakitnya bertahan lama. Dokter menyuruh saya tidur saja. Tetapi bagaimana saya dapat menikmati tidur saya, jika nyatanya saya tidak dapat membedakan mimpi dan realitanya? Keduanya sama mengerikannya.

Gadis itu yang merebut dirinya. Gadis yang berada di tengah-tengah kehidupan mereka. Menjadi penyegar di kala hausnya. Menjadi minuman isotonic penghilang dahag ketika hati kering sementara. Entahlah, mungkin disini saya yang salah. Atau dia yang salah. Tetapi saya tidak menyerah.

Saya meyakini Tuhan Maha Adil. Tuhan tidak pernah tidur. Ia mendengar semua jeritan, umpatan, pemintaan tolong, ucap syukur yang ditujukan pada dirinya, bahkan kepada hambaNya yang tidak pernah berdoa. Kepada hambaNya yang tidak pernah mengakui dirinya ada dan nyata.

Maka, disinilah saya. Di depan sebuah upacara perayaan yang dahulu menjadi impian saya. Inilah saya, memakai gaun kebaya putih yang sudah sejak lama saya impikan. Saya mendamba imam sayalah yang menanti saya. Bersama seluruh keluarganya, bersama seluruh keluarga. Namun, bukan. Bukan
Nyatanya, mimpi buruk saya jadi kenyataan.

Komentar

Postingan Populer