di mataMu?
True love isn’t found,
it’s built
Hari
ini aku mengucapkannya.
Dalam
kecepatan 80 km/jam, perjalanan serpong-jakarta..
Lawan
bicara disampingku terdiam.
Tidak
lagi mengucapkan sepatah kata.
Mungkin
meresapi kata-kata yang baru saja bergulir, mungkin saja memikirkan kata-kata
lainnya untuk membalas perkataanku barusan.
Lalu,
jawaban yang terdengar adalah jawaban yang sudah siap sekali aku dengar.
Jawaban
realistis, yang memang kontrast dengan apa yang ingin aku dengar.
Tapi.
Kejujuran adalah hal yang penting bukan?
Aku
sudah menyiapkan diriku sebisa mungkin, untuk mendengarnya sendiri, langsung
terucap dari mulutnya.
Mulut
penumpang yang duduk disampingku.
Duduk
memakai kacamata, baju abu-abu bertulisan superman, celana selutut berwarna
abu-abu, dan sepatu wakai hitam, krem, dan biru.
Aku
sudah menyiapkan hatiku jauh-jauh hari untuk mendengar kata apa yang terdengar.
Kata-kata
yang terdengar realistis, nyata. Tidak mengandai-andai, seperti apa yang aku
inginkan.
Setelah
ia mengungkapkannya,
Aku
lemas.
I won’t let my selfguard
down, anyone except you.
Tapi
aku berhasil.
Kata-kata
yang sudah aku persiapkan untuk kudengar dengan seksama, yang pada kenyataannya
adalah kata-kata yang paling aku hindari, jika bisa, berhasil aku cerna.
Beberapa
detik setelah ia mengatakannya, pandangan mataku berair.
Tapi
ia tidak melihatnya.
Aku
tutupi dengan sunglasses warna biru, favoritku.
Kali
ini, aku berharap warna biru akan kooperatif denganku,
Akan
membawa suasana ceria, mengembalikan mood seperti sedia kala. Aku harap.
Namun,
tidak. Biru tidak merubah hariku, moodku.
Ia
hanya berusaha melindungiku, dari tatapan matanya yang langsung tertuju ke
arahku.
Aku
terdiam lama,
Hanya
menjawab “ya” atau dengan anggukan kepala tandaku setuju.
Siapakah
aku ini?
Siapa?
Apa
artiku untukmu, jika demikian yang kamu inginkan?
Lalu,
aku mulai bertingkah seperti biasa. Mulai bernyanyi2.
Hari
ini sabtu.
Channel
mustang, ryhtm of love.
Sesi
kesukaanku sejak dulu, jika berada dalam kendaraan di hari sabtu.
Kali
ini, aku sengaja menggantinya dengan channel yang lain. Yang up to beat, untuk
menghilangkan rasa ini.
Pelan-pelan.
Rasa teriris ini.
Pelan-pelan.
Kepalaku
mulai mengikuti irama, aku mulai bernyanyi lagi.
Lalu,
ia matikan.
Ia
ingin dengar aku menyanyi.
Ia
lebih suka aku menyanyi sendiri.
Aku
tersenyum dalam hati.
Lama
sekali, rasanya aku tidak mendengar dari mulutnya sendiri, ia meminta aku
menyanyi..
Aku
nyanyikan lagu yang aku ciptakan..
Dia
dengarkan.
“sudah?”
tanyanya..
“singkat
banget”.. aku terdiam.
Didepan
macet.
Dirinya
mulai gelisah.
Aku
mulai menenangkannya.
Aku
tidak ingin memperkeruh suasana.
Ya
Allah, maaf..
Maafkan
atas perasaan ini..
Tapi,
sungguh aku ingin berhentikan waktu.
Saat
itu saja.
Aku
rela menghadapi macet tidak berkesudahan.
Aku
rela harus melewati jalan rusak itu berkali-kali.
Aku
rela harus mencuci si hitam berkali-kali, jika memang itu diperlukan.
Tapi
sungguh, aku ingin berhentikan waktu, Ya Allah.
Bisakah?
Pagi
pukul 7.
Aku
mendengar lagi pengakuannya.
Aku
melihat lagi buliran airmata keluar dari matanya.
Aku
tanyakan padanya, apakah aku menyakitinya selama hampir 4 minggu ini.
Dia
bilang bukan.
Aku
membuatnya, bingung.. dan pusing..
Aku
menangis, cukup kencang…
Kembali
ke perjalanan serpong.
Ia
menceritakan gadis lainnya.
Katanya,
aku jangan berpikir negatif.
Tidak,
aku tidak berpikir negatif.
Hanya
saja, hatiku seperti tidak pada tempatnya.
Hari
ini, pergi ke pusat perbelanjaan baru itu,
Bersama
kedua temannya.
Pusat
perbelanjaan tempat pertama kali ia menjelajahinya, bersama-nya.
Aku
bilang, “mal tidak semenarik dulu”
Ya,
aku tidak tertarik.
Hatiku
mati rasa.
Siang-sore
tadi.
Cikajang,Ambassador,
sushi tei, pelataran starbucks.
Aku
menutupi semua, semua rasa ini.
Siapakah
aku Allah, dimataMu?
Dimatanya?
6/07
Komentar