pagiku tidak pernah secerah ini
Pagiku
tidak pernah secerah ini..
Aku
terbangun dengan suara mesin pembuat kopi yang meraung-raung dari arah dapur.
Perlahan
aku turunkan selimut yang telah melindungiku dari desiran air conditioner yang ternyata lupa aku setel mode sleep semalam.
Untung
saja kebiasaanku memakai kaos kaki sebelum tidur sedikit menyelamatkanku.. aku
tidak bisa kedinginan, atau sedikit lelehan warna merah akan turun melalui
sela-sela hidungku jika itu terjadi.
Aku
duduk di tepi tempat tidur, perlahan merenggangkan punggungku, sibuk memijat
tengkuk belakangku yang sudah sakit sejak semalam. Aku pandangi jam dinding
kotak bergambar vespa berwarna merah, sudah pukul 7. Tidak perlu terburu-buru, toh ini hari
minggu.
Pintu
kamarku telah terbuka. Heran? Sejak kapan aku membiarkan pintu tidak terkunci
sebelum tidur? Dan oh ya! Siapa yang buat kopi pagi-pagi begini? Tidak ada
temanku yang menginap tadi malam? Atau aku jalan sambil tidur lagi? Hhh..
Semua
pertanyaanku terjawab sendirinya dan aku ternganga.
Di
dapur aku temukan punggungmu.
Sepertinya
kamu baru saja hadir,
Atau?
Kemejamu
yang berwarna hitam telah rapi licin. Celana chino coklatmu pun demikian. Kamu sibuk mematikan mesin pembuat
kopi dan sekarang menyeduhkannya ke dalam gelas kesayanganku yang berwarna biru
pastel. Kamu masukkan dua sendok teh gula, seperti kebiasaanku yang tidak
pernah aku lupa.
Kamu
masih saja membelakangiku.
Sepertinya
aku akan pingsan.
Aku
cubit pipiku. Awww! Ternyata sakit.
Aku
mencari pegangan di sekelilingku.
Ini
tidak mungkin bukan? Bagaimana mungkin kamu disini?
Bagaimana
mungkin kamu masuk?
Perlahan
aku berjalan menghampirimu.
Rasanya
luapan tidak percaya ini ingin segera kubuktikan dengan menyentuhmu. Sedikit
saja.
Baru
beberapa langkah dan sedikit lagi berhasil menyentuhmu, tangan hangat kecil
mengenggam tanganku..
“bunda”
aku
tersentak! Aku tak sengaja kibaskan tangan kananku.
Aku
melihat ke arah tangan ini menyentuhku,
Seorang
anak kecil, koreksi ,malaikat kecil sedang tersenyum ke arahku.
Rambutnya
dikuncir dua dengan poni depannya. Pipinya gembil kemerahan, bibirnya merekah
indah. Matanya bulat berwarna kecoklatan, bersinar gembira. Matanya sedikit
sipit, alisnya pun tidak tebal benar, namun cantik sekali. Berbaris rapi.
Malaikat
ini memakai baju terusan berwarna pink pastel, sesuai dengan warna kuncir
rambutnya dan tanpa beralaskan kaki.
Aku
tersenyum
Lebar
sekali.
Ia
mirip sekali denganmu dan aku, ternyata.
Siapakah
ini?
“pagi,
sayang..”
kamu
menyapaku.
Hangat.
Seperti
yang biasa kamu lakukan, dulu.
Ini
benar kamu khan?
Betul
bukan?
Aku
sibuk menutup mulutku.
Gesturku
ingin segera menghentikan luapan air mata yang tiba-tiba saja menetes
tiba-tiba. Terlambat.
Butiran
itu jatuh, pelan-pelan. Aku masih tidak percaya.
“sayang,
kok nangis?”
kamu
letakkan gelas biru berisi kopi itu dimeja yang terletak disampingku.
Kamu
merengkuhku, mengusap kepalaku, membiarkan kepalaku dengan ringan jatuh di
dadamu. Wangi yang khas menyeruak. Sambil menangis sesegukan aku menghirup dalam-dalam aroma yang sangat kusuka ini. Wangi alami tubuhmu yang
berbaur dengan wangi parfum serta sentuhan aroma kopi yang barusan saja kau buat.
Aku
menangis.
Ini
nyata?
Atau
tidak?
Jangan
bangunkan aku jika memang ini mimpi, Tuhan..
“bunda,
cok nyanyis? Cini aku ucap”..
belum
reda tangisku,
malaikat
kecil ini menyembur diantara kami berdua.
Bersama
dengan kamu.. ia usap tanganku…
Memeluk
kakiku karena hanya itu yang setinggi dengannya..
Aku
makin tidak bisa menghentikan hujan yang terus saja terjadi dipelupuk mataku.
Aku
membalas rengkuhanmu..
Aku
pastikan ini memang nyata..
Nyatakah
ini Tuhan?
Jangan,
jangan kau renggut pagi cerahku ini.
Jangan..
Komentar