Armonia Concert part 3

Ini adalah posting terakhir dari post berseri tentang konser pertama kali, paramadina choir.

Ini adalah perjuangan kami untuk mewujudkan impian ka pitung selama ia menjadi pengajar paduan suara di universitas paramadina. Tentunya, ini juga merupakan impian dari para alumni yang tidak sempat merasakan kemajuan yang pesat dari paramadina choir.
Paramadina choir memiliki metamorphosis yang begitu signifikan. Pertama kali didirikan, anggota yang berminat dalam mengikuti kegiatan kemahasiswaan ini kurang dari 10 orang, sehingga lebih cocok dikatakan sebagai vocal group. Tetapi, semangat untuk memajukan paramadina choir begitu kuat sehingga momentum itu pun tercipta.

Adalah kali pertama, paramadina choir pertama kali mengikuti kompetisi paduan suara pada tahun 2010 di UNTAR. Pada saat itu, mungkin jalan yang kami tempuh lebih ke arah nekat, karena kami belum sempat berunding banyak, belum sempat berpikir konsekuensinya, dan intinya, kami minim pengalaman. Namun, semangat kami mengalahkan segalanya. Kami terus berlatih hingga harinya datang, kami pun tersadar.  Semangat dan niat tidak cukup untuk menjadi yang terbaik. Kami tidak boleh memberikan 100 persen kemampuan kita, tetapi harus 150 persen! Sisa 50 persen tadi, adalah mengatasi rasa gugup ;p

Setelah itu, berbagai event pun kami ikuti. Berbekal dengan takaran awal kami, ketika mengikuti UNTAR, banyak sekali pelajaran yang kami ambil. Hal paling utama ialah menyiapkan amunisi terbesar, yaitu biaya! Butuh setahun bagi kami untuk melunasi biaya-biaya yang bisa dibilang cukup besar bagi kami. Berbagai event yang kami ikuti selain menambah jam terbang, sekaligus sebagai “cicilan” untuk melunasi kekurangan biaya tersebut. Kami tidak malu. Kami bangga. Ini adalah konsekuensi yang harus kami tempuh jika ingin maju. Dan kami, percaya akan hal itu.

Event-event mulai mengalir dan tahun ajaran baru pun datang. Amanah yang diberikan paramadina choir padaku pun telah beralih kepada pemimpin yang baru. Wajah-wajah baru mulai menghiasi ukm ini. Senang sekali ketika mengetahui jumlah anggota yang tertarik pada ukm ini, hampir mencapai 40 orang! Ini merupakan pertama kalinya ukm ini mendapatkan peminat yang begitu besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, lambat laun mulai terjadi seleksi alam. Hingga akhirnya yang bertahan hingga saat ini hanya belasan orang saja.

Satu hal yang perlu diingat, kami tidak pernah patah semangat! Mungkin pernah ada masa, di mana kami gundah, lelah, jenuh, karena hampir setiap hari bertemu ( saat event-event besar bermunculan). Beberapa mungkin berselisih paham namun tidak pernah berlarut-larut. Sungguh, bangga menjadi keluarga Paramadina Choir.

Keputusan untuk mengadakan konser pertama kali merupakan inisiasi di awal tahun 2012. Semuanya sepakat, tidak ada yang menolak. Bulan konser pun jatuh pada bulan Maret, sebagai hari Musik Nasional Indonesia. Jadwal latihan begitu mendesak, tetapi semuanya menerima.
Dan, sampailah kami pada malam puncak konser. Segala jerih payah, keringat kami, dalam melakukan latiha, fundraising, menentukan konsep acara, dan lain-lain telah kita kerahkan. Semuanya diserahkan kembali kepadaNya. Armonia merupakan nama yang kita usung untuk konser kali ini. Armonia berasal dari bahasa Italia yang berarti Harmoni. Sungguh, kami berharap akan tercipta harmoni dalam perpaduan suara kami dan tentu juga harmoni bagi hati kami.

Menjelang hari H, kami disibukkan dengan tata panggung, make up class, dan gladi resik diakhir. Sungguh momen yang tidak bisa dilupakan.. ini adalah penantian kita selama ini dan inilah yang menjadi penentuan sejauh mana kami telah berlatih dan memadukan kekompakan kami.

Tiket sold out, rektorat paramadina hampir semuanya datang. Sponsor datang berbarengan di hari akhir. Sungguh bahagia yang kami rasakan. 

Namun, beberapa kendala kami temui.

Hujan deras mengguyur  Jakarta hingga malam menjelang konser kami dimulai. Orangtua dari anggota Paramadina Choir, Nina (sopran) meninggal dunia tepat ketika kami sedang berganti baju untuk sesi kedua. Beberapa kesalahan pada diri masing-masing terjadi akibat rasa gugup yang melanda. Semuanya tumpah menjadi satu. Rasa sedih dan empati karena kehilangan, haru, bahagia, gugup, sedikit emosi, , semua menjadi satu wadah di atas panggung. Tak henti-hentinya aku mengucapkan doa dalam hati agar konser ini selesai dengan apik hingga akhir dan Allah pun mengabulkan.

Rekaman video kejutan yang kami buat untuk Ka Pitung membuatnya haru hingga menangis. Sebelumnya, ka pitung susah sekali menangis. Dan kali ini, kami berhasil membuatnya menangis terharu dan bangga. Para alumni pun datang mengucapkan selamat dan bahagia atas terselenggaranya konser ini. Orangtuaku datang, AF datang, kedua sahabat sekaligus saudariku dari asrama datang. Betapa bahagianya.. Ya Allah, semoga konser selanjutnya bisa membawa perubahan Paramadina Choir menuju tingkatan yang lebih baik lagi. Amin. 

Komentar

Postingan Populer